30.6 C
Bogor

Antisipasi Bencana, Keltana dan FPRB Lakukan Konsolidasi dan Peningkatan Kapasitas

Published:

 

Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) menggelar konsolidasi dan peningkatan kapasitas di Sekolah Alam, Tanah Baru, Bogor Utara, , Minggu (26/11/2023). Upaya ini untuk mengantisipasi bencana yang kerap terjadi seperti banjir, banjir lintasan, angin puting beliung dan longsor.

 

 

“Bencana di sangat mengintai sekali, kita konsolidasi dengan kelurahan-kelurahan agar solid. Dimana mereka selalu siap dalam menghadapi bencana,” kata Ketua FPRB Aldilah Rahman.

Ketika ada bencana, Keltana kata Aldi, sebelum ada bantuan dari luar mereka harus siap menghadapi bencana yang kapan saja bisa datang. “Kalau warga masyarakatnya sudah mempunyai kesiapsiagaan, insya Allah bencana itu walaupun datang bisa diantisipasi dan berdampak lebih besar,” ungkapnya.

Baca Juga  CALSIC CHAPTER BOGOR RAYA GELAR MUSCHAP 3

Keltana dan FPRB diharapkan Aldi memberi manfaat kepada masyarakat, khususnya lingkungan sekitar terutama dalam mengedukasi masyarakat dalam menghadapi bencana dan hal-hal penting kesiapsiaagaan bencana.

 

“Mereka telah menyusun program dan melakukan simulasi-simulasi kebencanaan. Kalau terjadi bencana seperti apa langkahnya. Jadi komunikasi dengan masyarakat itu sudah sinkron dan mereka sudah langsung paham pembagian tugasnya siapa yang mengurus ini mengurus itu. Jadi ketika ada bencana mereka sudah tidak panik lagi,” kata Aldi.

“Jadi harus siap menghadapi bencana, dan kita selalu menguatkan pengurus Keltana dengan memberikan contoh kepada masyarakat. Kami di FPRB juga menampung aspirasi Keltana untuk mengurangi risiko bencana,” kata Aldi.

Di dari 58 kelurahan, sudah ada 23 Keltana dan terbentuk sejak 2016. Sedangkan FPRB dibentuk 2019 dengan harapan semua unsur masyarakat bekerjasama. Pasalnya, bencana rata-rata menimbulkan korban karena kesiapsiagaan yang minim dan kurang paham alurnya.

Baca Juga  KS Productions Siap Gelar Konser Panbers

 

Menurutnya, FPRB bekerja sebelum bencana dengan melakukan kapasitas kesiapsiagaan. Sebagai contoh di Gunung Batu ketika terjadi longsor dikaji bersama. Persoalan ini dibawa ke Musrenbang agar daerah tersebut diberi penindakan.

“Ujung tombak itu ada di wilayah atau kelurahan. Nah, jika mereka sudah punya sistem baik dalam kebencanaan risiko bencana itu bisa dikurangi. FPRB juga mensupport, misal mengusulkan logistik dan di FPRB semua unsur ada. Informasi dari kelurahan dan forum melakukan pencegahan, mencari bantuan-bantuan dan lain sebagainya,” tandas Aldi.

Related articles

spot_img

Recent articles